RENUNGAN PERISTIWA ISRA' MI'RAJ
RENUNGAN PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ
Oleh: Fina Mawahib
ISRA’ MI’RAJ sebuah peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab. Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha selanjutnya menuju Sidraotul Muntaha yang dilakukan hanya dalam satu malam. Peristiwa ini merupakan sebuah manifestasi dari kedudukan mulia Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang dipenuhi oleh rahmat illahi. Perjalanan yang hanya bisa diyakini kebenarannya oleh orang-orang yang hatinya diberikan Hidayah oleh Allah.
Kerapkali orang mempertanyakan kebenaran isra’ mi’raj karena bertentangan dengan realita empiris dan rasional, bahkan peristiwa ini sangat sulit dibuktikan oleh bukti inderawi. Periwistiwa isra’ mi’raj memang sulit sekali dibuktikan dengan pendekatan deduktif-induktif, karena peristiwa ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa yang dikemas dalam level paling tinggi. Pembuktian isra’ mi’raj dapat dibuktikan jika melalui paradigma transenden, mengakui kebenaran metafisik yang bersifat suprarasional yang datang dari Tuhan. Jika bersedia bertafakur, fenomena ini merupakan bukti kekuasaan dan kebesaran Allah supaya para makhluq yang lemah ini tidak menyombongkan diri di bumi.
Isra’ Mi’raj bukanlah perjalanan yang sederhana. Ada suatu momen istimewa saat Nabi Muhammad diijinkan berkomunikasi langsung dengan Allah yang menghasilkan sebuah instruksi sakral yakni ibadah shalat serta adanya tawar menawar sebagai simbol kasih sayang nabi terhadap kaumnya. Nabi Muhammad SAW rela menawar sembilan kali untuk meminta keringanan Allah dari lima puluh menjadi lima waktu supaya kaumnya lebih mampu dalam memenuhi kewajiban. Fenomena tersebut memang sangat layak dijadikan sebagai peristiwa heroik dalam penyempurnaan aspek spiritual.
Banyak ibrah yang dapat diambil dari peristiwa isra’ mi’raj, jika diingat kembali secara historis peristiwa ini terjadi pada ‘ammul huzni (tahun kesedihan) karena Nabi Muhammad telah ditinggal wafat oleh Sayyidah Khadijah istri tercinta dan Abu Thalib paman yang sangat beliau sayangi. Allah menghibur beliau dengan mengajak melakukan perjalanan yang sangat luar biasa indahnya. Allah titipkan pesan shalat yang harus disampaikan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, shalat bisa dikatakan sebagai obat dari segala kesedihan dan solisi untuk ujian yang sedang dihadapi oleh manusia.
Ibadah shalat merupakan aspek fundamental dari keimanan. Perintah shalat merupakan perintah langsung dari Allah untuk Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat Jibril. Begitu pentingnya shalat bagi manusia, melalui shalat manusia dapat berkomunikasi secara langsung dengan Tuhannya. Ibadah shalat merupakan sebuah ritual penghambaan manusia, penyerahan diri manusia kepada pemilik semesta. Jika menilik dari perjalanan mi’raj nabi, shalat merupakan tradisi konsisten di sejarah kenabian, bisa ditarik kesimpulan bahwa shalat adalah lambang ketauhidan.
Isra’ Mi’raj dapat dijadikan bahan renungan bahwa shalat bukan hanya sebagai kewajiban namun sudah menjadi kebutuhan. Shalat adalah washilah mengikatkan diri pada Tuhan. Jika shalat ditinggalkan dengan apa manusia mengikatkan dirinya kepada Tuhan? Jika manusia melepaskan diri dari ikatan Tuhan, lantas siapa yang akan menjadi penolongnya? Manusia hanyalah makhluq kecil dan lemah, jika menyombongkan diri dengan meninggalkan sholat ia akan buta dengan segala pameran dunia, lahiriyyah-bathinyyah akan terlunta-lunta.
Sering kali para manusia yang meninggalkan shalat menganggap shalat hanyalah beban dan mengganggu aktivitasnya, padahal shalat mampu menarik energi positif yang bermanfaat bagi manusia. Sering kali manusia yang lalai terhadap shalat menganggap keindahan dunia yang dimilikinya adalah sebuah nikmat, tanpa sadar semua hanyalah istidraj, kenikmatan semu yang sejatinya adalah murka Allah SWT. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita semua dapat mengambil ibrah dari peristiwa isra’ mi’raj. Wallahu A’lam.
Oleh: Fina Mawahib
ISRA’ MI’RAJ sebuah peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab. Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha selanjutnya menuju Sidraotul Muntaha yang dilakukan hanya dalam satu malam. Peristiwa ini merupakan sebuah manifestasi dari kedudukan mulia Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang dipenuhi oleh rahmat illahi. Perjalanan yang hanya bisa diyakini kebenarannya oleh orang-orang yang hatinya diberikan Hidayah oleh Allah.
Kerapkali orang mempertanyakan kebenaran isra’ mi’raj karena bertentangan dengan realita empiris dan rasional, bahkan peristiwa ini sangat sulit dibuktikan oleh bukti inderawi. Periwistiwa isra’ mi’raj memang sulit sekali dibuktikan dengan pendekatan deduktif-induktif, karena peristiwa ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa yang dikemas dalam level paling tinggi. Pembuktian isra’ mi’raj dapat dibuktikan jika melalui paradigma transenden, mengakui kebenaran metafisik yang bersifat suprarasional yang datang dari Tuhan. Jika bersedia bertafakur, fenomena ini merupakan bukti kekuasaan dan kebesaran Allah supaya para makhluq yang lemah ini tidak menyombongkan diri di bumi.
Isra’ Mi’raj bukanlah perjalanan yang sederhana. Ada suatu momen istimewa saat Nabi Muhammad diijinkan berkomunikasi langsung dengan Allah yang menghasilkan sebuah instruksi sakral yakni ibadah shalat serta adanya tawar menawar sebagai simbol kasih sayang nabi terhadap kaumnya. Nabi Muhammad SAW rela menawar sembilan kali untuk meminta keringanan Allah dari lima puluh menjadi lima waktu supaya kaumnya lebih mampu dalam memenuhi kewajiban. Fenomena tersebut memang sangat layak dijadikan sebagai peristiwa heroik dalam penyempurnaan aspek spiritual.
Banyak ibrah yang dapat diambil dari peristiwa isra’ mi’raj, jika diingat kembali secara historis peristiwa ini terjadi pada ‘ammul huzni (tahun kesedihan) karena Nabi Muhammad telah ditinggal wafat oleh Sayyidah Khadijah istri tercinta dan Abu Thalib paman yang sangat beliau sayangi. Allah menghibur beliau dengan mengajak melakukan perjalanan yang sangat luar biasa indahnya. Allah titipkan pesan shalat yang harus disampaikan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, shalat bisa dikatakan sebagai obat dari segala kesedihan dan solisi untuk ujian yang sedang dihadapi oleh manusia.
Ibadah shalat merupakan aspek fundamental dari keimanan. Perintah shalat merupakan perintah langsung dari Allah untuk Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat Jibril. Begitu pentingnya shalat bagi manusia, melalui shalat manusia dapat berkomunikasi secara langsung dengan Tuhannya. Ibadah shalat merupakan sebuah ritual penghambaan manusia, penyerahan diri manusia kepada pemilik semesta. Jika menilik dari perjalanan mi’raj nabi, shalat merupakan tradisi konsisten di sejarah kenabian, bisa ditarik kesimpulan bahwa shalat adalah lambang ketauhidan.
Isra’ Mi’raj dapat dijadikan bahan renungan bahwa shalat bukan hanya sebagai kewajiban namun sudah menjadi kebutuhan. Shalat adalah washilah mengikatkan diri pada Tuhan. Jika shalat ditinggalkan dengan apa manusia mengikatkan dirinya kepada Tuhan? Jika manusia melepaskan diri dari ikatan Tuhan, lantas siapa yang akan menjadi penolongnya? Manusia hanyalah makhluq kecil dan lemah, jika menyombongkan diri dengan meninggalkan sholat ia akan buta dengan segala pameran dunia, lahiriyyah-bathinyyah akan terlunta-lunta.
Sering kali para manusia yang meninggalkan shalat menganggap shalat hanyalah beban dan mengganggu aktivitasnya, padahal shalat mampu menarik energi positif yang bermanfaat bagi manusia. Sering kali manusia yang lalai terhadap shalat menganggap keindahan dunia yang dimilikinya adalah sebuah nikmat, tanpa sadar semua hanyalah istidraj, kenikmatan semu yang sejatinya adalah murka Allah SWT. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita semua dapat mengambil ibrah dari peristiwa isra’ mi’raj. Wallahu A’lam.
Komentar
Posting Komentar